Metode Pemberian Tugas


Metode pemberian tugas sangat efektif untuk digunakan dalam berbagai kegiatan pengajaran. Di samping melatih kemampuan intelektual para peserta didik, metode ini pun sangat berkaitan dengan aspek afektif atau sikap peserta didik terhadap pengajaran yang diikutinya.

                   Metode pemberian tugas sangat menuntut tanggung jawab berbagai pihak, baik tanggung jawab peserta didik dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan guru, maupun tanggung jawab guru dalam memberikan respon terhadap tugas-tugas yang dikerjakan peserta didik. Di samping itu metode pemberian tugas pun seringkali melibatkan orang tua di rumah, karena tidak semua tugas dapat dikerjakan peserta didik dengan baik. Hal tersebut dapat menentukan efektifitas metode pemberian tugas.

  1. Kelebihan Metode Pemberian Tugas dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia
    1. Pengajaran klasikal cenderung untuk menyesuaikan cara dan kecepatan mengajar terhadap ciri-ciri umum di kelas itu. Hal tersebut menjadi sulit diikuti oleh kelompok yang memiliki kemampuan di bawah rata-rata, dan terlalu mudah bagi kelompok yang berada di atas rata-rata. Dengan metode pemberian tugas setiap peserta didik dapat kerja menurut tugas menurut tempo masing-masing.
    2. Metode pemberian tugas dapat digunakan untuk melatih aktivitas, kreativitas, tanggung jawab dan disiplin peserta didik dalam

kegiatan belajar. Hal ini penting karena dalam kegiatan pengajaran tidak selamanya peserta didik mendapat pengawasan dari guru. Dengan pemberian tugas diharapkan peserta didik bekerja secara mandiri, berdasarkan motivasi yang datang dari dalam dirinya, dan kreativitas yang dimilikinya.

  1. Peserta didik mendapat kesempatan untuk melatih diri bekerja sendiri secara mandiri. Dalam hal ini ia belajar menggunakan suatu alat atau sumber belajar dalam menyelesaikan tugasnya. Meskipun mungkin ia minta bantuan orang lain dalam menyelesaikan tugasnya.
  2. Metode pemberian tugas dapat merangsang daya pikir peserta didik, karena mereka dituntut untuk menyelesaikan tugas-tugas yang dihadapinya. Dengan demikian dapat melahirkan pemikiran-pemikiran yang inovatif dari para peserta didik, karena mereka diberi kebebasan dalam menyelesaikannya, tidak membebek atau mengikuti cara-cara yang dilakukan guru dalam menyelesaikannya.
  3. Pemberian tugas, di samping dapat dilakukan secara individu bisa juga dilakukan secara kelompok, dalam hal ini peserta didik dikelompokkan dalam kelompok-kelompok kecil.
  1. Kekurangan Metode Pemberian Tugas

Di samping kelebihan yang dimilikinya, metode pemberian tugas juga memiliki beberapa kekurangan. Kekurangan-kekurangan tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Apabila tugas tersebut diberikan secar kelompok sering kali yang mengerjakannya hanya peserta didik-peserta didik tertentu saja, atau bahkan hanya dikerjakan oleh seorang peserta didik saja, sedangkan peserta didik yang lainnya hanya numpang nama.
  2. Apabila tugas diberikan untuk dikerjakan di luar kelas, sulit untuk mengontrol apakah peserta didik bekerja secara mandiri atau malah menyuruh orang lain untuk menyelesaikannya.
  3. Metode pemberian tugas dengan sendirinya menuntut tanggung jawab guru yang sangat besar untuk memeriksa dan memberikan umpan balik terhadap tugas-tugas yang dikerjakan oleh peserta didik.
  4. Seringkali terjadi penyimpangan dalam penggunaan metode pemberian tugas, dari pangajaran menjadi semacam hukuman, atau kebiasaan rutin yang diberikan oleh guru terhadap peserta didiknya.
  5. Apabila tugas tersebut terlalu banyak dan sulit untuk dikerjakan, maka akan menyita waktu peserta didik untuk kegiatan lainnya.

CARA ANAK BELAJAR


           Piaget (1950) menyatakan bahwa setiap anak memiliki cara tersendiri dalam menginterpretasikan dan beradaftasi dengan lingkungannya (teori perkembangan kognitif). Menurutnya, setiap anak memiliki struktur kognitif yang disebut Shemata yaitu sistem konsep yang ada dalam pikiran sebagai hasil pemahaman terhadap objek yang ada dalam lingkungannya. Pemahaman tentang objek tersebut belangsung melaui proses asimilasi (menghubungkan objek dengan konsep yang sudah ada dalam pikiran) dan akomodasi (proses memanfaatkan konsep-konsep dalam pikiran untuk menafsirkan objek).

Kedua proses tersebut jika berlangsung terus menerus akan membuat pengetahuan lama dan pengetahuan baru menjadi seimbang. Dengan cara seperti itu secara bertahap anak dapat membangun pengetahuan melalui interaksi dengan lingkungannya. Berdasarkan hal tersebut, maka prilaku belajar anak sangat dipengaruhi oleh aspek-aspek dari dalam dirinya dan lingkungannya. Kedua hal tersebut tidak mungkin dipisahkan karena memang proses belajar terjadi dalam konteks interaksi diri anak dengan lingkungannya.

            Anak usia sekolah dasar berada pada tahapan operasi konkret. Pada rentang usia tersebut anak mulai menunjukkan prilaku belajar sebagai berikut: (1) mulai memandang dunia secara objektif, bergeser dari satu aspek situasi ke aspek lain secara reflektif dan memandang unsur-unsur secara serentak, (2) mulai berpikir secara operasional, (3) mempergunakan cara berpikir operasional untuk mengklasifikasikan benda-benda, (4) membentuk dan mempergunakan keterhubungan aturan-aturan, prinsip ilmiah secara sederhana, dan mempergunakan hubungan sebab akibat, dan (5) memahami konsep substansi, volume zat cair, panjang, lebar, luas, dan berat.

Memperhatikan tahapan perkembangan berpikir anak tersebut, kecenderungan belajar anak usia sekolah dasar memiliki 3 (tiga) ciri, yaitu:

  • Konkret

            Konkret mengandung makna proses belajar beranjak dari hal-hal yang konkret yakni yang dapat dilihat, didengar, dibaui, diraba, dan diotak atik, dengan titik penekanan pada pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar. Pemanfaatan lingkungan akan menghasilkan proses dan hasil balajar yang lebih bermakna dan bernilai, sebab siswa dihadapkan dengan peristiwa dan keadaan yang sebenarnya, keadaan yang alami, sehingga lebih nyata, lebih faktual, lebih bermakna, dan kebenarannya lebih dapat dipertanggungjawabkan.

  • Integratif

            Pada tahap usia sekolah dasar anak memandang sesuatu yang dipelajari sebagai suatu keutuhan, mereka belum mampu memilah-milah konsep dari berbagai disipilin ilmu, hal ini melukiskan cara berpikir anak yang deduktif yakni dari hal umum ke bagian demi bagian.

  • Hierarkis

            Pada tahapan usia sekolah dasar, cara anak belajar berkembang secara bertahap mulai dari hal yang sederhana ke hal-hal yang lebih kompleks. Sehubungan dengan hal tersebut, maka perlu diperhatikan mengenai urutan logis, keterkaitan antar materi, dan cakupan keluasan serta kedalaman materi.